KABUPATEN SABU - RAIJUA (SARAI)
"Jangan Lupa Berikan Komentar
Serta Masukan Yang Membangun "



Dianiaya Satpol PP Warga Sabu Datangi DPRD NTT

Dianiaya Satpol PP Warga Sabu Datangi DPRD NTT


Sejumlah warga Desa Raenyale, Kabupaten Sabu Raijua mendatangi DPRD NTT guna meminta agar pembangunan embung di kawasan persawahan mereka segera dihentikan.

Kedatangan 19 warga Sabu Raijua ini diterima Wakil Ketua DPRD NTT, Nelson Matara, S.Ip di ruang rapat Komisi A DPRD NTT, Senin (30/6/2014).

Kepada Pimpinan DPRD ini, para warga selain menyampaikan tuntutan mereka agar pembangunan embung itu dihentikan, mereka juga menyampaikan adanya tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP).

Mereka mengakui sudah pernah membuat surat penolakan namun tidak digubris. Bahkan meraka sudah pernah mengadukan kepada DPRD setempat namun tidak ada jalan keluar.

Puncaknya, lanjut Ferdinan, pada tanggal 25 Juni lalu, ada ratusan anggota satuan Polisi Pamong Praja mendatangi lahan itu, membawa serta alat berat untuk menggusur lahan itu. Dari situlah penganiayaan yang mengakibatkan 13 warga luka-luka bahkan ada yang patah tulang.

Salah satu perwakilan warga Raenyale, Ferdinan Balamata mengatakan, sebagai pemilik sah atas lahan itu merasa tidak pernah ada ada pelepasan hak atas tanah itu untuk digunakan membangun embung. Bukti kepemilikan atas lahan itu, jelas Ferdinan berupa sertifikat yang ditandatangani Swapraja Sabu pada tanggal 1 Maret 1962.

"Kami datang mau meinta bantuan DPRD NTT untuk membantu kami karena sawah kami, ratusan pohon tuak, kelapa dan pohon lainnya sudah digusur. Pada tanggal 25 juni, saudara-saudara kami dianiaya, disiksa dan bahkan diseret seperti hewan,' jelasnya.

Menanggapi penyampaian itu, Nelson Matara mengatakan lembaga DPRD tidak bisa langsung menghentikan proyek itu tetapi akan menindaklanjuti dengan menyurati Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua agar melakukan pendekatan secara persuasif.

source : http://kupang.tribunnews.com

Read more


Ibrahim Medah Menang di Sabu Raijua

Ibrahim Medah Menang di Sabu Raijua
Ibrahim Medah Menang di Sabu Raijua

Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI nomor urut 15, Ibrahim Agustinus Medah, menang telak di Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) dengan perolehan suara 18.638 suara.

Perolehan suara ini mengungguli 39 calon lainnya. Di posisi berikutnya calon dengan nomor urut 41 (Wihers Rihi Herewila) sebanyak 6.661 lalu Abraham Paul Liyanto sebanyak 2.354 dan calon dengan nomor urut 2, perolehan suara sebanyak 1.141 suara. Sedangkan perolehan suara calon DPD lainnya hanya berkisar antara 700 ke bawah.

Untuk calon anggota DPR RI, Caleg Partai Nasdem, Jacky Uli membukukan perolehan suara sebanyak 3.778, Caleg Golkar nomor urut 2, sebanyak 3.190, caleg Demokrat nomor urut 2, 9.523, dan caleg Hanura nomor urut 1, Saleh Husin sebanyak 1.173.
Demikian hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara partai politik dan calon anggota DPR, DPD, DPRD tingkat Provinsi NTT di Aula Kantor KPU Provinsi NTT, Selasa (22/4/2014) sore.

Rapat pleno dibuka Ketua KPU NTT, John Depa dihadiri empat komisioner lainnya, Sekretaris KPU NTT, Ubaldus Gogi, Bawaslu Provinsi NTT, saksi partai politik dan pemangku kepentingan lainnya.

Untuk diketahui, pada pemilu legislatif tahun 2014, di Kabupaten Sarai, pemilih yang menggunakan hak pilih sebanyak 38.564. Jumlah ini terdiri dari pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 37.059, pemilih dalam daftar pemilih tetap tambahan 207, daftar pemilih khusus 517 dan daftar pemilih khusus tambahan sebanyak 781 pemilih.

Menurut Ketua KPU NTT, John Depa, pleno hari itu hanya untuk lima kabupaten, yakni Sabu Raijua, Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Sumba Barat dan Sumba Tengah. Kabupaten lainnya baru akan dilakukan pada hari berikutya. 

Read more


KM Express Cantika 77 Sabu Raijua

Kapal Cepat Cantika 77 Mulai Melayani Warga Sabu Raijua
KM Express Cantika 77 Melayani Warga Sabu Raijua

Masyarakat Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) mendapat tambahan pelayanan dari satu armada yang akan melayani rute Kupang-Sabu Raijua pulang pergi (PP).

Armada ini adalah Kapal Motor (KM) Express Cantika 77 milik swasta nasional dan sudah melakukan pelayaran perdana pada tanggal 11 April 2014. KM Express Cantika 77 merupakan kapal cepat berkapasitas 400 seat dengan kecepatan bisa mencapai 30 knots. Juga memiliki ruang eksekutif seperti KM Bahari yang saat ini melayani rute Kupang-Rote. Waktu yang ditempuh oleh Kapal cepat "Cantika 77" ini dari pelayaran Sabu-Kupang pada tanggal 15 April  2014 memakan waktu 3 jam 45 menit. Dengan kemudahan ini, diharapkan dapat membantu roda perekonomian yang ada di Kabupaten Sabu Raijua. Untuk harga tiket KM Express Cantika 77 sekitar tiga ratus ribu rupiah (Rp. 300.000,-).


Anggota Komisi V DPR RI, Saleh Husin kepada memberi apresiasi atas kehadiran kapal cepat Cantika 77 ini. Menurutnya, beroperasinya kapal cepat ini akan mempermudah akses masyarakat di Pulau Sabu dan Raijua.

"Masyarakat Pulau Sabu semakin dimudahkan dengan mulai beroperasinya kapal ini. Bagi masyarakat yang akan menuju dan dari pulau Sabu ke Kupang mempunyai alternatif pilihan transportasi yang lebih baik dan berkualitas,".

Selain mempermudah akan memberi alternatif pilihan transportasi, ehadiran kapal cepat ini bisa membantu menggairahkan geliat ekonomi di wilayah Kabupaten Sabu Raijua. Masyarakat setempat diharapkan dapat menjaga dan merawat kapal tersebut agar tetap dapat beroperasi di Pulau Sabu. Dengan kehadiran kapal cepat "Cantika 77", diharapkan pulau Sabu semakin banyak didatangi oleh berbagai orang termasuk wisatawan, maka dengan demikian tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari kabupaten Sabu Raijua itu sendiri.

Read more


Januari, RSUD Sabu Berlakukan Aturan Baru

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kelas D Sabu Raijua, pada Januari 2013 akan berlakukan aturan baru sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sabu Raijua Nomor 25 Tahun 2011. Perda itu tentang Retribusi Jasa Umum yang mengatur tentang syarat dan biaya pungutan Retribusi Jasa Umum untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sabu Raijua.

Namun khusus untuk RSUD Menia hal itu hanya akan diberlakukan bagi pasien-pasien yang datang berobat tanpa membawa serta kartu berobat seperti Askeskin, Jamkesmas, Askes dan Kartu Berobat yang dikeluarkan oleh Pihak RSUD Saat pasien mendaftar untuk pertama kalinya sebagai pasien RSUD. Juga, pasien diharapkan tidak bisa hanya memberitahuan nomor register milik mereka yang dikeluarkan pihak RSUD tanpa menunjukkan fisik kartu tersebut, karena jika demikian maka pasien seperti itu akan dianggap pasien umum dan wajib membayar biaya administrasi sesuai aturan yang ada. Demikian Direktris RSUD Sabu dr. Laksmi Bhindarwati Chandra kepada koran ini di ruang kerjanya, belum lama ini. menurut dia, adapun biaya yang akan dikenakan kepada pasien umum sebesar Rp. 5.000 per sekali berobat di luar biaya obat, sedangkan khusus untuk biaya obat akan dikenanakan sesuai dengan jenis obat yang dibutuhkan pasien. Saat ini RSUD Menia tengah melakukan pembenahan-pembenahan terkait upaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga diharapkan tahun depan RSUD Menia sudah bisa menerima pasien daily care atau pasien yang membutuhkan perawatan sehari-hari atau pasien gawat darurat yang membutuhkan perawatan cepat.

Kini mereka sedang membangun ruang Instalasi Rawat Jalan yang targetnya akan selesai pada Februari tahun ini, dan jika sudah selesai maka RSUD Menia diharapkan sudah bisa melayani pasien yang membutuhkan pelayanan seperti operasi kecil, USG dan Rontgen serta lab darah. "Karena saat ini RSUD Sabu Raijua sudah memiliki semua peralatan dimaksud dan karyawannya juga sedang belajar di RSUD Umum Kupang tentang bagaimana mengoperasikan alat-alat dimaksud. Kita berdoa saja mudah-mudahan tahun depan gedung IRJ (Instalasi Rawat Jalan) sudah selesai sehingga kebutuhan-kebutuhan masyarakat seperti operasi kecil, rontgen, dan USG untuk ibu hamil serta Lab Darah sudah bisa dilayani,"ujar Laksmi.

Read more


Mimpi Marthen Luther Dira Tome Selaku Bupati Sabu Raijua 2012

Sabu-Raijua (SARAI) Harus Maju dan Bermartabat.

Sabu-Raijua boleh menjadi kabupaten paling bungsu di Provinsi NTT, namun sejuta geliat di kabupaten itu saat ini, menandakan bahwa kabupaten itu tak mau kalah dari aspek pembangunan.


Dengan menggandeng seluruh komponen di sektor internal (masyarakat dan beraneka potensi di Kabupaten Sabu Raijua) dan sektor eksternal (investor dan kekuatan dari luar), mereka sangat optimistis bahwa kabupaten itu akan mampu berjalan setara dengan kabupaten lain di NTT.

"Sebagai pemimpin pertama di Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome memiliki banyak mimpi tentang kemajuan daerah itu. Sudah menjadi visi dia, bahwa ingin menjadikan Sabu Raijua menjadi sebuah kabupaten yang maju dan bermartabat,"kata Marthen Luther Dira Tome"


Menurut Marthen Luther Dira Tome, pemerintah setempat memiliki target, agar kedepan masyarakat Sabu Raijua (SARAI) harus mampu berpikir melampaui apa yang orang pikirkan, dan mampu berbuat apa yang sudah orang lain lakukan. Tak heran jika mereka kini memiliki beraneka program yang diadopsi sesuai kebutuhan masyarakat riil.


"Kami sadari bahwa untuk menggapai visi itu, kami harus bekerja keras, dan itu sudah konsekwensinya. Ada tiga aspek yang menjadi sasaran yang kami sentuh sekaligus sasaran pelayanan kami yakni sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan,"Marthen Luther Dira Tome menambahkan "Kami menggandeng berbagai pihak untuk membenahi ketiga sektor ini. Karena kami yakin, ketika ketiga sektor ini terlayani baik maka masyarakat dengan sendirinya akan sejahtera."


Namun ketika pihaknya berkonsentrasi pada ketiga sektor itu, bukan berarti bahwa mereka lantas melupakan bahwa salah satu hal yang penting, adalah mereka harus membenahi infrastruktur. Tak bisa dipungkiri bahwa sektor ini juga penentu suksesnya capaian tiga aspek yang akan dibenahi tadi.


Marthen Luther Dira Tome merincikan, ketika berbicara mengenai pembenahan serta perbaikan sektor ekonomi masyarakat Sabu-Raijua, tidak hanya sekadar bermimpi, lalu besok harinya jadi, melainkan membutuhkan kerja keras. "Kami gerakkan dan memodali masyarakat untuk lebih giat di sektor ekonomi.


Kami tidak segan-segan memberikan masyarakat modal dan fasilitas penunjang agar membuat mereka bergairah di sektor ini. Banyak potensi yang dimiliki oleh masyarakat di Sabu, dan itu yang kami sentuh,"ujar mantan Kabid PLS Dinas PPO NTT itu.


Menurutnya, Kabupaten Sabu Raijua terletak di tengah sebuah samudera amat luas, yang kaya akan potensi darat dan laut. "Makanya kami pakai pola pendekatan ampibi. Ketika musim bersahabat, kami turun ke laut. Ketika tidak bersahabat, kami genjot sektor darat. Jadi, kami pun bekerjasama dengan berbagai sektor, kami buat peta potensi untuk melakukan pendekatan yang lebih merakyat.


Apa yang dibutuhkan masyarakat, itulah yang kami beri. Walau baru setahun, sudah mulai nampak geliat di Sabu-Raijua. Sektor laut sudah dimanfaatkan, kami belikan lampara kepada masyarakat, tahun ini kami beli lima unit, tahun depan kami beli sepuluh unit lagi. Semuanya diurus oleh masyarakat, pemerintah hanya memotivasi saja,"tutur Dira Tome penuh semangat.


Di satu sisi, dia tak mengelak jika ada selentingan isu di dunia maya yang sudah mempengaruhi opini publik bahwa seolah-olah masyarakat Sabu-Raijua sudah mengalami krisis pangan karena gagal panen musim ini.


"Kami tidak seperti daerah lain. Sabu Raijua memiliki karakteristik tersendiri, beda dari daerah lain. Curah hujan kami sangat sedikit, karena itu kami manfaatkan sebaik-baiknya curah hujan yang ada. Kami tidak gagal panen, melainkan kami hanya menunda masa panen. Jika orang panen di musim pasca hujan, kami tidak.


Kami justeru panen di musim kemarau. Ada buktinya. Kami sudah beri bukti. Kami panen di musim kemarau, dan kami undang seorang deputy dari Kementerian Daerah Tertinggal, dan beliau yang memanennya."


Di sektor pendidikan, pihaknya sudah menggandeng akademisi dari Universitas Indonesia (UI) yakni DR Kebamoto, John Manulangga (alm), Herman Sagabara dan beberapa profesional pendidikan pada tahun lalu, untuk melatih sekaligus memberi try out kepada para guru di Sabu.


Guru dilatih seperti anak sekolah, diberi bekal ilmu yang cukup untuk nantinya ditransfer pada guru di sekolah asal, dan juga anak didik. "Yang kami harapkan itu, adanya perbaikan kualitas dan kuantitas kelulusan. Kami memasang target, tahun 2012 ini kami masuk dalam lima besar lulusan dan kualitas terbaik.


Kami sudah gandeng pengajar dari Mercusuar dan Giovanni untuk memberi motivasi dan penguatan pada tenaga pengajar kami,"ujar Dira Tome. Sementara di sektor kesehatan, pihaknya sementara menyerukan reformasi besar-besar di bidang tersebut. Rantai pelayanan yang selama ini terkesan panjang, dipangkas habis.


Setelah ditelusuri, menurutnya, ada jenjang pelayanan kesehatan yang terlalu panjang. Dia merincikan, prosedurnya yakni pasien diobati dulu di Pustu, jika tak sembuh atau kondisinya tak memungkinkan, maka dirujuk ke Puskesmas, kemudian ke rumah sakit.


"Kami potong jalurnya. Obat-obatan yang baik langsung didrop ke Pustu dan Puskesmas. Tenaga medis berkeliling dari desa ke desa, dan memberikan pelayanan maksimal. Kami bentuk majelis pemantau kesehatan, dan mereka adalah tokoh masyarakat di desa setempat, mereka melakukan pemantauan terhadap masyarakat yang sakiot, kemudian dilaporkan ke medis.


Mereka juga memantau perkembangan si pasien sehingga benar-benar diproteksi,"ungkap Dira Tome. Selain itu, masih menurut Dira Tome, mereka tengah fokus pada sektor penghijauan di Sabu, yakni menggalakkan program Kebun Rakyat Mandiri (KRM).


Diakuinya, untuk penanggulangan rawan pangan sekaligus menuju Sabu ketahanan pangan, maka salah satu program yang dilakukan adalah gerakan penanaman pada musim panas dengan mencoba memanfaatkan mata air, baik sumur ataupun mata air dan sisa air kali.


"Sedangkan untuk pelestarian lingkungan dan alam, dilakukanlah penanaman berbagai jenis tanaman seperti mahoni, trambesi, jati dan sebagainya di lokasi atau lahan kritis yang tidak mungkin ditanami tanaman pangan dan inilah yang disebut hutan rakyat mandiri (HRM),"pungkasnya.

Read more


Empat Warga Sabu Tewas Tertimbun Tanah Longsor

Sebanyak 13 warga Desa Keduru Kecamatan Sabu Timur Kabupaten Sabu Raijua Sabtu (13/8) tertimbun tanah. Kejadian tersebut terjadi sekira pukul 17.00 wita, saat mereka gali tanah untuk membuat jalan desa.


Sudah empat korban yang meninggal dunia, sementara sembilan korban lainnya masih dirawat secara intensif di Puskesmas Bolou Sabu Timur. Keempat korban meninggal yaitu Rihianus Djami Lena, Teroci Haba Walu, Yane Manggi Lede dan Ruben Adi. Sementara korban luka dan sementara dirawat yaitu Kornelia Pada Pita, Regina Wila Rihi, Jublina Tari, Marthen Manno Riwu, Helena Pada Pita, Yonathan Adi, Apridolof Ie Riwu, Dominggus Bangu Dimu dan Meliana Indra Doko.


Evakuasi para korban berlangsung cukup sulit lantaran tanah yang longsor cukup besar dengan diameter sekira lima meter kubik sehingga membutuhkan waktu sekitar satu jam guna bisa mengeluarkan para korban. Apalagi proses sevakuasi dilakukan secara manual dengan peralatan seadanya. Sembilan korban yang pertama berhasil dievakuasi semuanya masih dalam keadaan selamat. 

Sementara tiga korban lainnya masih tertimbun dalam tanah yang cukup dalam sekitar tujuh meter. Salah satu korban meninggal dunia yakni Ruben Adi sempat dilarikan ke Puskesmas Seba namun nyawa korban tidak tertolong selama dalam perjalanan. Tiga korban yang tertimbun cukup dalam yakni Rihianus Dami Lena, Teroci Haba Walu dan Yane Manggi Lede. Proses evakuasi terhadap Rihianus Djami Lena baru bisa berhasil dilakukan pukul 21.30 Wita dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Korban saat ditemukan berada dalam posisi duduk menggunakan baju lengan pendek warna hitam dan celana panjang jeans warna biru. Sementara korban atas nama Teroci Haba Walu baru bisa dievakuasi pukul 22.30 Wita juga dalam keadaan sudah tak bernyawa. Begitu pula korban atas nama Yane Manggi Lede baru berhasil di evakuasi pukul 03.00 Wita, Minggu (14/8) dini hari.


Setelah ketiga korban berhasil dievakuasi maka jenazah mereka langsung dibawa ke rumah masing-masing. Isak tangis keluarga tak terbendung begitu mengetahui musibah yang menggemparkan warga Desa Keduru. Proses evakuasi dihadiri Camat Sabu Timur, Simon Moneheme, Kapolsek Sabu Timur, Iptu Yosep Kanisius Dosa,Kepala Desa Keduru, Yan Bale Tadjo dan ratusan warga lainnya.


Lukas Mangi Lede, salah satu warga yang selamat dari musibah ini mengisahkan kalau kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Saat itu dirinya baru saja keluar dari dalam lubang yang digali untuk memberi kesempatan kepada warga lain untuk mengambil tanah yang sudah dia gali. "Kejadiannya sekitar jam lima sore, waktu itu saya baru keluar dari dalam lubang supaya yang lain bisa ambil tanah yang saya gali. Tapi secara tiba-tiba tanah dari atas runtuh dan menimpa teman-teman yang ada di dalam lubang. Kita ada lima orang yang berada di luar karena kita tugas menggali sementara mereka yang tugas untuk mengambil tanah. Saat kita baru sampai di atas, tiba-tiba itu tanah jatuh," ungkap Lukas Mangi Lede.


Kepala Desa keduru, Yan Bale Tadjo kepada harian ini dilokasi kejadian menjelaskan, kejadian tersebut bermula ketika ada pekerjaan pengerasan jalan dalam Desa Keduru lewat program PNPM. seperti biasanya masyarakat yang melakukan pengadaan tanah sesuai dengan harga yang telah ditemtukan dalam rencana anggran belanja (RAB). dengan demikian maka warga kemudian membentuk kelompok untuk menggali tanah. Lokasi tanah yang digali oleh kelompok yang tertimpa bencana tersebut berada di RT 8/RW 4 Dusun II Desa Keduru.

Bupati Dan Wakil Bupati Sabu-Raijua Melayat.

Bupati Sabu-Raijua, Marthen Dira Tome saat melayat ke rumah para korban mengatakan, agar setiap kegiatan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat tidak boleh terlepas dari pengawasan pemerintah secara berjenjang mulai dari aparat terbawah hingga pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.


Hal ini jelas Marthen Dira Tome, perlu dilakukan agar masyarakat yang melakukan kegiatan pembangunan tidak boleh menjadi korban keteledoran dan kurang waspada hingga menelan korban jiwa.
Ia mengatakan ada banyak proyek yang akan masuk di Kabupaten Sabu Raijua dan tentu akan melibatkan masyarakat secara aktif. Oleh sebab itu maka setiap kegiatan harus selalu dalam pengawasan pemerintah sehinggabisa meminimalisir resiko dari sebuah pekerjaan atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat. "Saya minta agar semua aparat dari bawah hingga kabupaten harus mampu secara benar mengawasi segala kegiatan yang dilaksanakan masyarakat. Jika ada pekerjaan yang akan menimbulkan resiko harus dihentikan kegiatannya," pintanya.


Ia berpesan agar semua warga harus bahu-membahu meringankan beban para korban sesuai dengan adat dan budaya orang Sabu. "Kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi semua masyarakat Sabu Raijua. apa yang dialami oleh keluarga korban sudah menjadi kehendak yang kuasa. Pemerintah Sabu Raijua turut berdukacita untuk kejadian ini," ujar Marthen Dira Tome yang didampingi Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke.


Berikut adalah data nama-nama korban yang tertimbun tanah longsor :

  1. Rihianus Djami Lena ---> Tewas
  2. Teroci Haba Walu ---> Tewas
  3. Yane Manggi Lede ---> Tewas
  4. Ruben Adi ---> Tewas
  5. Kornelia Pada Pita ---> Luka Berat
  6. Regina Wila Rihi ---> Luka Berat
  7. Jublina Tari ---> Luka Berat
  8. Marthen Manno Riwu ---> Luka Berat
  9. Helena Pada Pita ---> Luka Berat
  10. Yonathan Adi ---> Luka Berat
  11. Apridolof Ie Riwu ---> Luka Berat
  12. Dominggus Bangu Dimu ---> Luka Berat
  13. Meliana Indra Doko ---> Luka Berat.

Read more


Program Kebun Rakyat Pemkab Sabu Raijua

DPRD Kabupaten Sabu Raijua Tinjau Kebun Rakyat

Marthen Luther Dira Tome
MENIA, (Sarai) - Program kebun rakyat mandiri yang sementara digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua di beberapa tempat pada enam kecamatan, telah merubah tempat gersang menjadi hijau dengan tanaman jagung, kacang hijau dan sayur-sayuran.


Untuk memberi semangat dan motivasi kepada masyarakat petani, Sabtu (6/8) usai paripurna, Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome bersama Wakil Bupati, Nikodemus Rihi Heke membawa Ketua DPRD Ruben Kale Dipa, bersama beberapa anggota untuk melihat dari dekat kebun rakyat mandiri di Kecamatan Liae.


Dalam kunjungan ini nampak tanaman jagung maupun kacang hijau sudah tumbuh dengan cukup baik dan sudah ada yang tingginya hampir satu meter. Khusus di Kecamatan Liae ada tiga desa yang memiliki lahan yang cukup luas yakni Desa Deme, Kotahawu dan Hallapadji. Puluhan hektare saat ini sudah menghijau dengan tanaman jagung, kacang hijau maupun sayur-sayuran.


Ketua DPRD Sabu Raijua, Ruben Kale Dipa saat memantau tanaman petani di Desa Deme mengatakan, dirinya merasa kagum dengan program kebun rakyat mandiri yang cukup sukses dilaksanakn oleh pemerintah bersama masyarakat. Hal ini telah merubah image mengenai Sabu Raijua yang kering pada musim kemarau dengan menghijaunya tanaman petani.

"Setelah saya melihat tiga lokasi yang ada saya pikr ini bupati ‘gila’. Kenapa saya katakan demikian, karena ketika kita melihatnya kita menjadi tergila-gila dengan program kebun rakyat mandiri. Coba lihat lahan kritis yang biasanya tidak berguna kini sudah menghijau. Saya pikir siapapun yang melihatnya pasti akan tercengang, coba lihat dimusim kering seperti ini ada puluhan hektare lahan yang sudah menghijau dengan jagung, kacang hijau maupun sayur-mayur," ujarnya.


Dikatakan, keberadaan kebun rakyat mandiri di Kecamtan Liae telah merubah pemikiran masyarakat selama ini bahwa dari Liae orang hanya bisa membuat periuk tanah dan mengolah garam. Untuk itu, maka DPRD akan terus memberi dukungan kepada pemerintah lewat anggaran yang ada tentu akan disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah.


Hal senada juga dikatakan Ketua Komisi B, Oktovianus Kadja. Dirinya mengakui, dengan melihat tanaman para petani saat ini yang cukup subur, maka sudah bisa diprediksi hasil panennya nanti. "Kita harap bahwa dengan bantuan yang diberikan oleh pemerintah akan menjadi daya dorong bagi masyarakat yang selama ini berpikir bahwa menanam itu hanya pada musim hujan. Dengan melihat apa yang sudah dilakukan disini, maka siapapun pasti ingin menanam. Toh pemerintah juga sudah siap mengambil semua hasil lewat koperasi yang ada, kita cukup memberi apresiasi kepada pemerintah," katanya.


Sementara anggota Fraksi PDIP, Rowi Kaka Mone mengaku, gebrakan yang dibuat oleh pemerintah telah memberi contoh nyata kepada masyarakat. Dengan kondisi di Sabu Raijua yang curah hujannya cukup rendah tapi dengan memanfaatkan mata air serta air tanah yang ada, pemerintah telah merubah pemikiran masyarakat. "Saya pikir dengan kondisi kita di Sabu yang kering seperti ini, maka perlu ide-ide gila untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Dengan program ini kita harap Sabu Raijua akan memiliki pangan yang cukup sehingga tidak lagi berharap hanya pada raskin. Dengan demikian, maka kemiskinan yang melilit masyarakat selama ini bisa menemukan jalan keluar," ujarnya.


Menanggapi tanggapan DPRD Sabu Raijua, Bupati Marthen Dira Tome mengatakan, apa yang telah dilakukannya di Sabu Raijua belum apa-apa, karena dirinya memiliki tujuan agar seluruh masyarakat bisa melakukan seperti yang dilakukan petani lewat kebun rakyat mandiri. Dirinya mengatakan, apa yang dilakukan saat ini sudah pernah dilakukannya ketika menjadi Kabid PLS Provinsi NTT.


"Bagi saya bukan baru sampai di Sabu baru mulai meraba-raba apa yang harus dilakukan atau ada orang yang bilang saya meniru program. Saya datang kesini sudah punya konsep sendiri bukan karena meniru orang lain atau didorong oleh orang lain, tapi lahir dari pemikiran sendiri serta lahir dari pengalaman dilapangan ketika saya menjadi Kabid PLS dan masyarakat tahu apa yang telah dibuat PLS," ujarnya.


Dikatakan, bukan masalah programnya yang canggih tapi siapa yang menggerakkannya itu yang sangat menentukan. "Program yang baik itu bukan lahir dari slogan yang macam-macam seperti berasnya, berasnya, tikus, kecoak atau kalong, bukan itu tapi bagaimana menggerakkannya program itu yang paling penting. Artinya siapa the man behind the gun," tukasnya.


Untuk itu pihaknya berharap agar DPRD bisa menunjang dengan anggaran, sehingga setiap program yang akan dilakukan bisa berjalan dengan maksimal. "Kita tidak bisa bicara bagaimana meningkatkan produksi pertanian, tapi kebijakan anggarannya tidak ada untuk itu. Jadi harus ada kepercayaan dari dewan untuk beri kesempatan kepada pemerintah bersama rakyat untuk berkarya. Saya baru enam bulan jadi bupati, baru enam purnama belum banyak yang bisa saya perbuat," ujarnya merendah. (Kab.sabu-raijua)

Read more

Syalom !!

Mudah - mudahan blog ini bermanfaat untuk anda, dalam menambah wawasan dan pengetahuan seputar Kabupaten Sabu-Raijua (SARAI)

Click Here To Visit The Facebook Page

SARAI Friend's

Entri Populer

About This Blog

free counters

Page Views

Web hosting for webmasters